Gerakan kolaboratif untuk mempercepat penurunan angka stunting di Provinsi Riau resmi dimulai. Ketua TP PKK Provinsi Riau, Henny Sasmita Wahid, menandatangani nota kesepahaman dengan 15 perguruan tinggi, mengerahkan ribuan mahasiswa untuk turun langsung menjadi “Kakak Asuh Stunting”. Inisiatif ini menjadi bagian dari Program GEMPITA Riau, sebuah terobosan yang diharapkan bisa menyentuh akar persoalan gizi kronis ini hingga ke tingkat keluarga.
PROVINSIRIAU.com | Pekanbaru, 17 Oktober 2025 – Upaya serius Pemerintah Provinsi Riau dalam memerangi stunting mendapatkan pendekatan baru yang lebih masif dan integratif. Melalui Program Gerakan Empati dan Aksi (GEMPITA), TP PKK Provinsi Riau di bawah pimpinan Henny Sasmita Wahid menjalin kemitraan strategis dengan 15 perguruan tinggi se-Riau. Penandatanganan kerjasama ini dilakukan dalam launching GEMPITA Riau di Gedung Daerah Balai Serindit, Kamis (16/10/25), yang diresmikan oleh Asisten II Setdaprov Riau, Helmi D.
Kolaborasi ini bertujuan mempercepat penurunan prevalensi stunting dan meningkatkan standar pelayanan minimal (SPM) Posyandu. “Kerja sama ini merupakan komitmen kita semua dalam upaya penurunan angka stunting di Provinsi Riau,” tegas Henny Wahid dalam sambutannya.

Ke-15 perguruan tinggi mitra tersebut meliputi institusi pendidikan negeri dan swasta terkemuka, seperti Universitas Riau (UNRI), UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Universitas Muhammadiyah Riau, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, hingga berbagai institut dan sekolah tinggi ilmu kesehatan seperti Poltekes Kemenkes Riau dan Stikes Tengku Maharatu.
Dalam skema GEMPITA Riau, peran mahasiswa menjadi ujung tombak. Mereka akan bertindak sebagai “Kakak Asuh Stunting” yang tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga pendampingan berbasis empati kepada keluarga yang memiliki anak berisiko atau mengalami stunting. “Hadirnya tentu saja tidak hanya memberikan edukasi, tapi juga mendampingi dengan hati,” tutur Henny.

Lebih dari sekadar isu kesehatan, Henny menegaskan bahwa stunting menyangkut masa depan bangsa. Anak dengan stunting berisiko tinggi mengalami gangguan tumbuh kembang, penurunan kemampuan belajar, dan rendahnya produktivitas di masa dewasa. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara kolaboratif, lintas sektor, dan berkelanjutan.
Tidak berhenti di dunia akademis, TP PKK dan TP Posyandu Provinsi Riau juga menggandeng mitra pentahelix lainnya. Kerjasama melibatkan BKKBN Riau, Baznas Riau, sejumlah rektor, media, hingga pihak rumah sakit seperti Aulia Hospital. Pendekatan multi-pihak ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Dengan melibatkan kekuatan intelektual dan semangat muda dari kampus, serta membangun sinergi pentahelix, Program GEMPITA Riau hadir sebagai jawaban atas tantangan stunting yang multidimensi. Langkah ini tidak hanya berfokus pada intervensi gizi, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia unggul untuk masa depan Riau yang lebih sehat dan produktif.