Di tengah kekhawatiran sejumlah daerah terhadap kebijakan transfer dana pusat, Provinsi Riau justru melangkah percaya diri dengan membawa solusi nyata. Dalam Forum Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Selasa (7/10/2025) lalu, Riau menawarkan potensi pendapatan negara yang selama ini “luput” dari sistem keuangan nasional. Dengan sumber daya alam yang sangat besar, Riau menggambarkan diri sebagai “raksasa ekonomi yang tertidur” yang siap dibangunkan untuk mendongkrak perekonomian nasional.
PROVINSIRIAU.com | Pekanbaru, 14 Oktober 2025 – Pada pertemuan yang dihadiri 18 gubernur se-Indonesia itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahral Abdi, menyampaikan presentasi yang membuka mata. Ia menyatakan Riau memiliki celah pendapatan negara yang sangat besar, mencapai Rp 50 triliun, yang belum tergarap optimal. Padahal, kontribusi Riau selama ini bagi Indonesia tidaklah kecil: 43% sumber migas nasional dan 22% sawit dan CPO nasional bersumber dari bumi Lancang Kuning.
Namun, fakta di lapangan justru memprihatinkan. Dari total 4 juta hektare kebun sawit di Riau, baru 1,7 juta hektare yang berizin, dan hanya 1 juta hektare yang berstatus Hak Guna Usaha (HGU). Sebanyak 1,8 juta hektare lainnya masih berada di dalam kawasan hutan, menunjukkan kompleksnya permasalahan tata kelola.
“Artinya, optimisme yang kami bangun ini, kami dari Riau mencoba menampilkan dan menyampaikan sumber daya yang begitu besar di Riau tapi pada hari ini tidak masuk pada sistem keuangan negara menurut hemat kami,” tegas Syahral. Ia berharap Riau diberdayakan dan akan “membangunkan raksasa ekonomi yang sedang tidur” di provinsi tersebut. Dengan skema bagi hasil yang tepat, daerah berharap dapat menerima sekitar Rp 4,8 triliun.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan respons positif atas inisiatif Riau ini. “Terima kasih atas informasinya, kita akan optimalkan antara daerah dan Pemerintah pusat,” kata Purbaya, menunjukkan perhatian khususnya untuk menindaklanjuti potensi tersebut.
Syahral Abdi juga menegaskan bahwa potensi pungutan pajak ekspor dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor-sektor unggulan Riau masih sangat terbuka untuk dioptimalkan. Ini menjadi peluang konkret untuk menambah pundi-pundi negara di luar skema transfer ke daerah yang ada.
Potensi Riau tidak berhenti pada migas dan sawit. Syahral menganalogikan Riau sebagai “raksasa yang masih tertidur” yang kekuatannya meliputi kelapa, sagu, pariwisata, dan sektor kelautan. Ia mengingatkan kejayaan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yang pernah menjadi penghasil ikan terbesar di dunia setelah Norwegia. Kota Bagansiapi-api, bahkan, pernah dijuluki “Hong Kong Kedua” oleh masyarakat lokal.
Dengan segala kekayaan dan potensi yang terpendam itu, Pemerintah Provinsi Riau menyatakan kesiapannya untuk membangun sinergi yang solid dengan pemerintah pusat. Komitmen untuk optimalisasi potensi daerah ditegaskan sebagai kunci membangunkan sang “raksasa” agar Riau bisa berkontribusi lebih besar lagi bagi Indonesia.